Minggu, 22 Mei 2016

(Gak penting) Kekesalanku sekarang

Belakangan ketika ku nyalakan TV, menyimak berita. Yang kudapati adalah berita kasus kekerasan seksual. Ya pemerkosaan, ya pencabulan, dan segala macam bentuk tindakan kriminalitas pada (maaf) alat kelamin lagi banyak terjadi.

Hal itu membuatku sebagai cowok khawatir pada cewek - cewek, dan anak - anak dibawah umur diluar sana. Gimana gak khawatir? Hampir tiap hari, tiap jam, tiap menit, tiap detik pasti ada lebih dari satu kasus kekerasan seksual.

Yang masih hangat, kekerasan sadis yang menimpa pekerja pabrik inisial "E" oleh pelaku yang dibawah umur. Penyebabnya singkat saja, karena si korban gak mau ML dengan si pelaku karena takut hamil. Lantas pelaku kemudian melakukannya secara paksa dan kemudian diakhiri dengan eksekusi koban dengan memasukan gagang cangkul ke (maaf) vagina korban.

Sungguh ngeri sekali...
Dan sialannya satu dari ketiga pelaku karena masih dibawah umur, dia mendapat keringanan hukum.

Ini menurutku tak adil! Hukum seharusnya tak melihat status, hubungan darah. Hukum harusnya bersifat sama. Ya ku tahu dia masuk kategori dibawah umur, tapi yang masuk kategori tersebut haruslah ada batasannya. Katakanlah kalo dia terlibat dengan penyalahgunaan narkoba, pencurian. Gue masih setuju dia masuk kategori tersebut. Tapi kalo perbuatan dia sudah diluar batas wajar anak - anak, harusnya dia dapat hukuman berat.

Apa mau karena ringannya hukuman, kemudian predator - predator kemanusiaan tumbuh dengan bebasnya? Tidak! Orang yang perbuatan kriminalitasnya diluar batas kewajaran, mau dia dibawah umur sekalipun. Hukumlah dia dengan Berat.

Harga barang curian bisa kita bayar kembali! Tapi harga nyawa takkan pernah bisa kita bayar kembali!

Aku memang tidak terlalu mengerti tentang hukum atau isi undang - undang dengan lengkap. Namun menurutku hukuman di negeri ini lembek tak bertaji, tak pernah menimbulkan efek jera.

Para pelaku kriminal dan calon pelaku kriminal, aku hanya berharap pada kalian. SEMOGA KALIAN CEPAT TOBAT, DAN KEMBALI KE JALAN TUHAN.

Sekian

Kamis, 19 Mei 2016

Ramadhan....

Marhabban Ya Ramadhan...

Terhitung belasan harian lagi bulan penuh berkah ini akan datang. Tanda – tandanya, ya lihat saat iklan - iklan di televisi. Iklan – iklan khas yang akan menghiasi Ramadhan sudah mulai bermunculan. Dimulai dengan iklan Sirup ‘M’, Keju ‘C’, Obat kumur ‘L’ sudah nampak menyambut bulan ini.

Bulan inilah yang teramat dirindukan olehku. Aku kangen suasana kehangatannya, dimana kita bisa merasakan hangatnya kebersamaan saat makan bersama dan beribadah bersama. Belum lagi ramainya penjual takjik di pinggir jalan, dan suara kentongan pembangun sahur yang sangat khas.

Hmm... bener – bener suasana tersebut bener – bener ngangenin.

Menurutku orang yang malah mengeluh dengan datangnya bulan ini sangatlah merugi. Pasalnya tak hanya menawarkan suasana kehangatan, namun bulan ini juga menawarkan berbagai limpahan pahala yang di lipat gandakan. Segala macam amal dan kegiatan ibadah pahalanya lebih besar dari hari biasanya, belum lagi di bulan ini adalah bulan dimana kitab suci kami Al-qur’an diturunkan. Di bulan ini juga terdapat malam yang sangat spesial, ialah malam Lailatul Qodar yaitu malam yang lebih baik dari 1000 bulan.

Hmm.... sungguh merugi bukan, jika kita malah mengeluh dengan datangnya malam ini.

Di bulan apalagi kita bisa menikmati segala jamuan spesial yang diberikan Allah SWT kepada kita? Jika bukan hanya di bulan ini.
Itulah hal yang selalu membuatku rindu dengan bulan Ramadhan.
Diperantaun kini aku sangat rindu bisa nikmati ramadhan full bersama keluarga, namun hal itu harus aku kesampingkan. Pasalnya aku sekarang sedang berjuang demi mereka. Ya walaupun tidak bisa menikmati full bersama mereka, setidaknya aku bisa menikmati beberapa hari menjalankan ibadah puasa bersama mereka.

Diperantauan ini, aku juga masih bisa menikmati hangatnya kebersamaan bulan ramadhan. Karena di bulan ini, mesjid – mesjid selalu terbuka menawarkan berbuka puasa bersama, ibadah bersama. Hal itulah yang bisa menggantikan sementara hangatnya suasana ramadhan bersama sanak keluarga di kampung. Kadang aku juga ingin punya satu figur, yang bisa ku ajak saling mengingatkan saatnya ibadah, dan saatnya sahur dan berbuka.

Hmm... bakal makin ajib kayaknya

kalo ada kamu.
Sekian, ya tulisan hari ini

- Dari Beruang yang sangat merindukan Ramadhan di perantauan  -

Rabu, 11 Mei 2016

Kopi

Si hitam pahit...
Dulu ku tak suka, tapi sekarang jadi seperti candu. Walau tak ku konsumsi tiap hari. Hanya ketika ku terpaksa begadang, menghadapi serangkaian deadline tugas, maka aku meminta sedikit bantuannya.

Aku mulai menyukainya, sejak ku merantau jauh dari orang tua. Karena ku sangat membutuhkannya saat harus menyelesaikan deadline semalam

Rasanya pahit yang kental, namun kini sedikit manis karena gula. Bagai hidup, kadang ketika hidup kita pahit maka kita perlu mencari sesuatu untuk menyamarkan rasa pahitnya. Entah itu menemui sahabat, menemui orang tua, atau pergi ke tempat yang sekiranya bisa sedikit menyamarkan rasa pahitnya hidup.

Kafeinnya membuat candu dan membuatku terjaga beberapa jam untuk menghindari tidur. Mengajarkan, bahwa ketika kita nyaman pada sesuatu kita akan selalu menemuinya, karena hal itulah yang membuat kita terhindar beberapa saat dari masalah berat.

Kopi Hitam, Kopi susu, Caffucino, Moccacino. Itu beberapa diantaranya yang jadi kesukaanku.

Tak seperti yang lain yang bisa menikmati berbagai rasa lainnya, aku hanya mentok di rasa itu saja. Keterbatasan biaya, dan karena bukan pula penggemar berat kopi, adalah alasan ku tak pernah merasakan rasa yang lainnya.

Ku berterima kasih sekali padamu KOPI, sudah mau menahan rasa kantukku saat dikejar tugas. Dan ku berterima kasih juga, karena dibalik nikmatnya rasamu, aku dapat sedikit pelajaran hidup.

Sekian...
Aku si Beruang yang menyukai Kopi

Selasa, 03 Mei 2016

D

Kita memang tak pernah punya hubungan apapun saat masih sekolah dulu, kecuali ya hanya sebatas teman.
Namun kode - kode yang kamu tinggalkan dan baru kutemukan, membuatku selalu kepikiran kamu. Dan itu membuatmu begitu spesial bagiku

Kamu dulu yang selalu bujuk aku masuk organisasi sekolah, menyemangatiku saat lomba, membuatku berani memegang katak yang tadinya aku takuti, dan orang pertama yang meminta no hape dan mau duduk sebelahan denganku saat kita menikmati film 3D zaman Study Tour dulu.

Ya, sungguh indah bila ku flashback lagi ke masa - masa itu, walaupun kita tak pernah punya hubungan spesial, selain sebagai teman.

Bila ku dengar Yogyakarta, kuingat kamu. Karena yang ku tahu disanalah tempatmu menuntut ilmu dan mengejar ambisimu setelah kita pisah di SMA.

Jujur saat kamu menghilang setelah Ujian Nasional bahkan saat acara perpisahan sekolah kamu tidak datang. aku selalu bertanya - tanya tentang kamu.

Namun dari kontak terakhir kita saat akan memulai perkuliahan, aku sedikit senang karena bisa tahu kabarmu waktu itu. Kamu ceritakan waktu itu, kamu kuliah di Jogja, dan menceritakan kehidupan disana melalui celotehanmu di Twitter. Dan itulah hal terakhir yang aku tau tentangmu.

Sekarang aku tidak tahu lagi kabarmu. Entah apakah kamu masih kuliah disana, atau keluar dan lanjutkan hobimu dengan bisnis di dunia Maya? Atau kamu sekarang sedang sibuk - sibuknya dengan organisasi mahasiswa disana. Aku tak pernah tahu lagi.

Mendengar kabar teror kemarin yang melanda Magelang, dan Yogyakarta yang sasarannya perempuan. Seketika aku ingat dan memikirkanmu lagi. Jika masih disana, apa kamu baik - baik saja kan? Dan aku harap kamu bukanlah jadi sasaran mereka.

Kemarin - kemarin, aku dapat kontakmu dari teman yang paling dekat denganmu. Tetapi, alih - alih ingin bisa berkomunikasi lagi. Rupanya aku masih buntu untuk bisa membuka celah tentang kabarmu.

Aku, masih menaruh hatiku padamu dan aku berterima kasih padamu karena kamu sudah beberapa kali masuk ke mimpiku dan fikiranku. Aku masih setia menunggu dirimu sebelum hati ini dan hatimu, ada yang merebut.

Bersama dengan gelap dan dinginnya malam ini, izinkan aku memberimu do'a dan harapan.

'Semoga kamu selalu baik baik saja, dan kita bisa berkomunikasi kembali, dan semoga kelak kita bertemu lagi kita bisa akrab seperti biasa.'

Sekian salam kerinduanku padamu.

Ttd.
Beruang Galau yang merindukan satu temannya.